Thursday, September 10, 2009

Gold, Glory, dan Gospel

Barat tidak ingin Islam umat Islam hidup dengan jati dirinya karena itu sangat berbahaya. Makanya harus dilemahkan.

ImageKristenisasi dan pemurtadan ter-hadap umat Islam tidak berdiri sendiri. Aktivitas itu terkait dengan misi lain. Masuknya Kristen ke Indonesia, sebagai contoh, bersamaan dengan masuknya para penjajah baik itu Portugis maupun Belanda. Kedatangan para penjajah itu selain untuk mengeruk kekayaan alam Indonesia, menguasai wilayah, juga ingin menjadikan penduduknya memeluk Kristen.

Hj Irena Handono, mantan biarawati, menegaskan keterkaitan tersebut. Berte-barannya penjajah ke berbagai negeri Muslim mengemban misi ekonomi, politik, dan agama. Di kalangan bangsa Barat yang penjajah, misi untuk menjadikan dunia sebagai komunitas Kristen sangat nyata karena itu merupakan bagian dari perintah agama. Pemeluk Kristen harus melaksanakan amanat agung atau kristenisasi ke seluruh dunia. Berbagai cara dilakukan oleh para penjajah ini tanpa mengenal halal haram sebab memang tidak ada yang haram bagi mereka.

Penjajahan, menurut Ketua Umum Kris-tologi Indonesia Zahir Khan, adalah salah satu cara kristenisasi. Bentuk penjajahan ini bisa berubah. Bisa penjajahan fisik seperti pada masa penjajahan Belanda selama 350 tahun di Indonesia maupun penjajahan non fisik se-perti yang terjadi pada saat ini. Penguasaan politik suatu bangsa akan memungkinkan penjajah bisa dengan leluasa mendapatkan semua yang diinginkannya baik ekonomi maupun budaya termasuk menanamkan agama baru bagi rakyat yang dijajahnya.

Tipologi penjajahan Barat tidak ber-ubah sejak dulu. Semboyan 3G yakni gold, glory, dan gospel tampaknya terus menjadi pegangan. Kemenangan menguasai wilayah (the Glory), mengeruk kekayaan alam sebesar-besarnya bagi kepentingan sang penjajah (the Gold), dan penyebaran agama Kristen di seluruh tanah jajahan (the Gospel) merupakan prinsip hingga sekarang. Semua itu dilakukan melalui 'perang suci' atau ‘the Crusade'.

Kolonialisasi yang dilakukan bangsa Eropa, khususnya Belanda selama hampir 3,5 abad di Indonesia, misalnya, sebenarnya hanya bentuk lain dari 'the crusade' yang dilancarkan bangsa Romawi Eropa/Nashrani kepada negeri-negeri muslim di seluruh dunia pada masa itu. Mereka tidak hanya mencari sumber kekayaan alam tapi juga menyebarkan agama Kristen.

Dalam konteks kekinian, pola tersebut tidak berubah. Sebelum Amerika Serikat menyerang Afghanistan dan dilanjutkan ke Irak, Presiden George W Bush menguman-dangkan 'Perang Suci' terhadap siapa yang mereka sebut para teroris yang sebenarnya adalah umat Islam. Fakta menunjukkan, mereka tidak hanya ingin menghabisi umat Islam tapi lebih dari itu mengeruk kekayaan alam terutama minyak bumi dan menguasai negeri-negeri itu dengan mendudukkan bo-neka/anteknya di negara tersebut. Ber-samaan dengan itu, misionaris Kristen mendompleng di dalamnya.

Harian New York Times yang memuat artikel tentang aktivitas pemurtadan itu menuliskan bahwa umat Islam adalah kelom-pok yang paling sulit untuk dimurtadkan. Itulah sebabnya, misionaris dari Korea Selatan ini memfokuskan kegiatannya ke negara-negara Arab, khususnya Yordania dan Irak. Mereka ada yang menyamar sebagai peng-usaha, bantuan kemanusiaan, palang merah internasional, LSM, dan sebagainya. Beberapa waktu lalu, para misionaris itu ditangkap oleh para pejuang Irak. Saking agresifnya kegiatan pemurtadan yang mereka lakukan, sampai seorang misionaris mengungkapkan pepa-tah yang dikutip New York Times. Bunyinya,” Kalau ada orang Korea datang ke suatu tempat maka ia akan mendirikan gereja, orang China akan membuka restoran dan orang Jepang akan membangun pabrik.”

Harian Akhbaar al-Khaliij mengutip sumber-sumber yang berada di kota Moshul, utara Irak, yang mengatakan bahwa sebuah lembaga yang berada di bawah Vatikan gencar mengkristenkan puluhan Muslim Kurdi, yang kemudian para Muslim itu di-kirimkan ke pusat-pusat pelatihan Kristen yang berada di gereja-gereja khusus.

Sementara terhadap negara yang tidak dijajah secara fisik, Barat menguasainya dengan menggunakan tangan yang lain seperti Multi National Corporation (MNC). Dari sinilah mereka memperoleh gold berupa kekayaan alam dengan sangat mudah. Sedangkan gospelnya, tidak lagi berbentuk proyek kristenisasi secara vulgar meskipun itu masih adatapi lebih jauh lagi yakni meng-ubah tata cara hidup dan kehidupan umat Islam agar meniru tata-cara kehidupan Nash-rani/Yahudi. Karena itu gospel sekarang adalah konsep materialisme, kolonialisme, imperialisme, liberalisme, ekonomi Pasar, kapitalisme, sosialisme, konsumerisme, demokrasi, HAM, women's lib, free love, free sex, hedonisme, pasar bebas, globalisasi, budaya kosmopolitan, dan istilah-istilah lainnya.

Dr Musthafa Khalidy dan Dr Umar Fa-rukh dalam bukunya 'Imperialis dan Misio-naris Melanda dunia Islam' menyebutkan bahwa motif dari misionaris di dunia Islam tercampur antara misi agama dan misi politik, bahkan kebanyakan misi mereka adalah politik. Alasannya, bangsa-bangsa Barat kebanyakan sudah atheis dan tak ada per-hatian terhadap gereja. Ia mengutip per-nyataan misionaris G Simon: “Apabila persa-tuan Islam mulai menampakkan sosoknya untuk menghadapi imperialisme Eropa, maka para misionaris harus segera beraksi menyo-dorkan sosok Eropa, sehingga persatuan Islam pun menjadi luntur kembali. Karena itu para misionaris harus memasukkan pola pemikiran Kristen ke dalam persatuan Islam, sehingga dapat mengguncang kaum muslim. Negara Turki (pusat Khilafah Islamiyah) sung-guh sangat berbahaya bagi Eropa sebab rakyatnya memeluk agama Islam, bahkan mereka memiliki kekuatan tersendiri untuk menghadapi ambisi dan kerakusan orang-orang Eropa.”

Walhasil, kegiatan misionaris tidak lepas dari aktivitas imperialis negara-negara Barat yang rakus untuk menguasai dunia Islam, memecah belahnya, dan mencegah ter-jadinya persatuan kembali negeri-negeri Islam.[] mujiyanto

mediaumat.com

Tuesday, September 8, 2009

Tujuan Kedatangan Bangsa Barat

Tujuan awal kedatangan bangsa barat ke Indonesia tidak terlepas dari gold, glory dan gospel.
Setelah rempah-rempah banyak di dapatkan, sistem monopoli perdagangan mulai di berlakukan bahkan sampai berakhir usaha imperialisme dan kolonialisme di Indonesia. Misi bangsa barat tidak berhenti sampai disitu saja! ada satu misi yang harus diterapkan dalam masyarakat Indonesia yaitu mengemban gospel! di mulai bangsa Portugis, Spanyol bahkan Belanda berusaha untuk menerapkan pengaruh kepercayaanya di Indonesia!

Berdasarkan pernyataan diatas, usaha-usaha apa saja yang dilakukan oleh bangsa barat dalam upaya mengkrestenisasi masyarakat di seluruh nusantara! dan daerah-daerah mana saja yang mendapat pengaruh krestenisasi di Indonesia!

Way Kambas

Taman Nasional Way Kambas adalah satu dari dua kawasan konservasi yang berbentuk taman nasional di Propinsi Lampung selain Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 670/Kpts-II/1999 tanggal 26 Agustus 1999, kawasan TNWK mempunyai luas lebih kurang 125,631.31 ha.

Secara gaeografis Taman Nasional Way Kambas terletak antara 40°37’ – 50°16’ Lintang Selatan dan antara 105°33’ – 105°54’ Bujur Timur. Berada di bagian tenggara Pulau Sumatera di wilayah Propinsi Lampung. Pada tahun 1924 kawasan hutan Way Kambas dan Cabang disisihkan sebagai daerah hutan lindung, bersama-sama dengan beberapa daerah hutan yang tergabung didalamnya. Pendirian kawasan pelestarian alam Way Kambas dimulai sejak tahun 1936 oleh Resident Lampung, Mr. Rookmaker, dan disusul dengan Surat Keputusan Gubernur Belanda tanggal 26 Januari 1937 Stbl 1937 Nomor 38.

Pada tahun 1978 Suaka Margasatwa Way Kambas diubah menjadi Kawasan Pelestarian Alam (KPA) oleh Menteri Pertanian dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 429/Kpts-7/1978 tanggal 10 Juli 1978 dan dikelola oleh Sub Balai Kawasan Pelestarian Alam (SBKPA). Kawasan Pelestarian Alam diubah menjadi Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) yang dikelola oleh SBKSDA dengan luas 130,000 ha. Pada tahun 1985 dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 177/Kpts-II/1985 tanggal 12 Oktober 1985. Pada tanggal 1 April 1989 bertepatan dengan Pekan Konservasi Nasional di Kaliurang Yogyakarta, dideklarasikan sebagai Kawasan Taman Nasional Way Kambas berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 444/Menhut-II/1989 tanggal 1 April 1989 dengan luas 130,000 ha. Kemudian pada tahun 1991 atas dasar Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 144/Kpts/II/1991 tanggal 13 Maret 1991 dinyatakan sebagai Taman Nasional Way Kambas, dimana pengelolaannya oleh Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam Way Kambas yang bertanggungjawab langsung kepada Balai Konsevasi Sumber Daya Alam II Tanjung Karang. Dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 185/Kpts-II/1997 tanggal 13 maret 1997 dimana Sub Balai Konsevasi Sumber Daya Alam Way Kambas dinyatakan sebagai Balai Taman Nasional Way Kambas.

Alasan ditetapkannya kawasan tersebut sebagai kawasan pelestarian alam, adalah untuk melindungi kawasan yang kaya akan berbagai satwa liar, diantaranya adalah tapir (Tapirus indicus), gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), enam jenis primata, rusa sambar (Cervus unicolor), kijang (Muntiacus muntjak), harimau Sumatera (Panthera tigris), beruang madu. Badak Sumatera pada saat itu belum ditemukan sehingga bukan sebagai salah satu pertimbangan yang dipergunakan sebagai dasar penetapannya.

Namun demikian, setelah ditetapkannya sebagai kawasan suaka margasatwa hampir selama dua puluh tahun, terutama pada periode 1968 – 1974, kawasan ini mengalami kerusakan habitat cukup berat, yaitu ketika kawasan ini dibuka untuk Hak Pengusahaan Hutan, kawasan ini beserta segala isinya termasuk satwa, banyak mengalami kerusakan.

Dari jenis satwa tersebut, sampai dengan saat ini keberadaannya masih terjaga dengan baik, antara lain yang dikenal dengan The Big Five mammals yaitu tapir (Tapirus indicus), gajah Sumatera (Elephant maximus sumatranus), harimau Sumatera (Panthera tigris), badak Sumatera (Diserohinus sumatranus) dan beruang madu (Helarctos malayanus)


Sunber:www.waykambas.or.id

DANGER!!

membaca dari blog ini memungkinkan terkena kangker, impotensi, TBC, rakitis, maag, sesak nafas, gangguan ibu hamil dan janin.